Diduga ada calo, Katimsel Paskibraka Manado membantahnya

ManadoMB–Dugaan adanya praktik percaloan di ajang seleksi Paskibraka Kota Manado mengemuka seiring adanya tengara permainan seiring pergantian utusan dari SMKN 3 Manado atas nama Natalia Thomas ke Alisya Umar.
“Kami sudah mendapatkan pengaduan dari orang tua korban, dan menelaah aduan ini kami menduga ada calo yang bermain di seleksi ini,” ungkap Sekretaris Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Manado Ai Firman Mustika SH MH, Sabtu (03/04/21) malam ini.
Seperti pemberitaan sebelumnya, terjadi kisruh dalam proses seleksi Paskibraka Kota Manado. “Anak saya yang sudah dinyatakan sudah lolos seleksi tahap I, tiba-tiba pada saat pengumuman seleksi tahap II yang lolos justru siswa SMKN 3 Manado lain yang justru namanya sudah gugur pada seleksi tahap I,” cetus Ny Santia Thomas, ibu dari Natalia Thomas.
Kuat dugaan ada calo yang beroperasi untuk meloloskan Alisyia Umar dengan kasak kusuk ke panitia seleksi Paskibraka Kota Manado, dan SMKN3 Manado agar Alisya Umar lolos. “Yang mengherankan, tiba-tiba muncul surat baru dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora. red) Manado yang telah menetapkan nama Alisyah Umar sebagai yang lolos seleksi tahap II dimana nama Natalia Thomas sudah tidak ada lagi,” ungkap aktivis FKPPI Sulut ini.
Namun , dugaan ini langsung dibantah Ketua Tim Seleksi (Katimsel) Paskibraka Kota Manado Sterry Andih SH MH. Menurutnya, proses seleksi Paskibraka Kota Manado telah dilakukan secara transparan dan mengikuti aturan yang ada. “Kami sudah bekerja dengan maksimal agar yang lolos sesuai dengan standard Paskibraka. Terbukti salah satu siswi yang kami seleksi lolos menjadi calon Paskibraka Nadional utusan Sulut. Dan kami pastikan tidak ada calo dalam seleksi ini,” ujar figur Agen Perubahan Kejati Sulut ini.
Soal RG yang disebut-sebut sebagai calo, karena ikut terlibat dalam proses seleksi itu, Andih mengatakan tidak demikian. “Rahmad Gobel di mata kami hanyalah purna (PPI, red) yang kemudian ikut hadir saat seleksi tapi dia bukan penentu hasil seleksi ini. Ini juga bagian kami melibatkan PPI dalam kegiatan ini,” jelas Kasie A Intelejen Kejati Sulut ini, soal keterlibatan RG dalam proses seleksi tersebut.
Soal insiden “Putri yang tertukar”, Andih menegaskan prosesnya tidaklah demikian. “Karena kedua siswi SMKN 3 Manado itu terlibat proses seleksi sejak awal. Tadinya, hanya 1 siswi dari SMKN 3 Manado. Tapi karena kami harus memenuhi quota, maka kami menambah 1 lagi siswi dari SMKN 3 Manado. “Nah, dari proses seleksi tersebut yang terpilih hanya 1 siswi. Jadi, tidak ada yang ditukar,” pungkas Jaksa muda ini.(henzoe)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: