Warga Bitung ini Tukar Masa Depannya Dengan Uang 3 Juta

BitungMB—Tangan Mencencang, Bahu Memikul. Siapa yang salah pasti di Hukum. Mungkin ini yang harus diterima bapak 2 anak yang bekerja sebagai penangung jawab mesin besar di salah satu perusahaan ikan yang ada di kota Bitung.

Setiap harinya YP alias Henock warga Kelurahan Danowudu Lingkungan 1  harus berada di ruang mesin yang bisingnya bisa membuat telinga tuli, belum lagi resiko bocornya mesin Boiler yang mengeluarkan cairan NaOH atau cairan soda kaustis sejenis soda api yang jika lengah sedikit bisa mengakibatkan kematian pekerja di area pendukung produksi ini.

Dengan stelan baju kerja sambung dari kemeja hingga celana terlihat dia sudah terampil menarik tuas maupun menekan tombol-tombol mesin. Sumbatan kapas ditelinganya jelas terlihat untuk meminimalisir dentuman kerasnya bunyi mesin dalam ruang. Oli bekas yang menempel di baju kerja, nyata sebagai bukti kerasnya kehidupan pekerjaan yang dia lakoni, meski gaji sesuai dengan Upah Minimum Regional Sulawesi Utara.

“Yah beginilah kerjaan di perusahaan ikan,” katanya seraya membuka kapas ditelinga, begitu keluar ruang mesin.

Diapun sedikit bernostalgia kalau seharusnya dia tidak berada di tempat ini kalau 13 tahun lalu, tidak membuat kesalahan.

“Jika tidak membuat kesalahan mungkin saat ini saya sedang berada di luar negeri di kapal pesiar mewah,” ungkap pria Asal Tanjung Priuk Jakarta, lulusan Akademi Maritim Indonesia Jakarta.

Mantan Kepala Kamar Mesin (KKM) di Kapal ekspedisi sekelas Tanto express tentunya mempunyai gaji dolar yang besar waktu itu. Namun, Kesalahan diri sendirilah yang membuatnya harus bertahan hidup di perusahaan nomor 2 di Kota Cakalang ini. “Narkobalah yang membuat saya begini. Saya sangat menyesal membawa barang haram itu, saat sandar di pelabuhan Bitung dan diciduk petugas kepolisian,” ungkapnya sambil mengambil rokok puntung dalam kantong dan menyalahkannya.

“Coba jika tidak terjerat Narkoba, pasti saya sudah menjadi kepala kamar mesin di kapal luar negeri,” kata pria yang mengaku pernah satu kelas dengan anak pemilik ekspedisi Tanto Ekspres.

Dihisapnya rokok merk Surya panjang-panjang dan membuang asap jauh-jauh. “3 tahun saya habiskan di penjara karena barang itu dan ada aturan di semua perusahaan transportasi kapal dunia, tidak akan mempekerjaan seseorang yang terbukti membawa narkoba dalam pelayarannya selama 5 tahun,” ungkapnya dengan tatapan kosong.

Diceritakannya lagi kalau penangkapan terhadapnya dilakukan karena membawa narkoba jenis sabu-sabu sebanyak 1,4 Gram dan 1 linting ganja yang sudah dibakar dan disimpannya dalam kamar di atas kapal. “Saya menukarkan masa depan saya dengan barang yang waktu itu hanya berharga tak sampai 3 jutaan,” keluhnya sambil berdiri dari kursi panjang perusahaan dan mengintip ke jendela ruangan memastikan mesin dalam keadaan berjalan.

“Saya sudah tidak mau bicara hal itu lagi, karena jika saya tidak membuat kesalahan itu, Mungkin saat ibu meninggal tanggal 28 Juni barusan, saya ada disisinya di Jakarta. Namun karena saya ada disini bekerja melihat ibu terakhir kalinya saja saya tidak bisa,” tutupnya.

Sesal kemudian tiada gunanya, dalam pembicaraan selanjutnya dia terus mengakatan kalau berpikirlah dengan matang sebelum melakukan apapun. Janganlah seperti Esau yang menukarkan hak kesulungannya seperti pada Ayat Alkitab Ibrani 12:16.

Esau menukar hak kesulungan yang sangat berharga dengan semangkuk soup. Peristiwa itu terjadi, pada saat Esau pulang dari berburu. Haus dan lapar sangat begitu terasa. Dalam waktu bersamaan, dia melihat saudaranya Yakub sedang membawa semangkuk soup kacang merah. Soup itu nampak begitu lezat, dengan uap yang masih mengepul. Dan kuahnya yang nampak segar. Nafsu Esau bangkit, membayangkan betapa nikmatnya soup itu. Lalu Yakub menawarkan untuk menukar semangkuk soup merah dengan hak kesulungan Esau. Betapa bodohnya Esau sebab hak kesulungan adalah berkat abadi, dan warisan yang berlimpah-limpah. Namun karena nafsu sesaat ia tukarkan semua itu.(ep)   

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: