150 Ha Tanah Leluhur Pinasungkulan Bakal Jadi Kampung Mati Diumur 100 Tahun

BitungMB—Rencana Eksplorasi Perusahaan Tambang PT MSM/TTN ke Pemukiman warga kelurahan Pinasungkulan yang Pemukimannya ada sejak 1925, rupanya mulai diseriusi pihak perusahaan tambang tersebut.

Buktinya terinformasi, Pemkot Bitung sempat kedatangan  salah satu petinggi dari PT Archi Indonesia Tbk yang merupakan induk perusahaan PT MSM/TTN pada Kamis (28/10), Wakil Direktur Utama PT Archi Indonesia Tbk, Rudy Suhendra dijadwalkan bertemu dengan pimpinan kota.

Pertemuan itu diduga terkait rencana perluasan wilayah tambang dua anak perusahaan PT Archi di wilayah Kota Bitung, yakni Kelurahan Pinasungkulan dan sekitarnya.

Pertemuan itu dibenarkan Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Pemkot Bitung, Albert Sergius Pelenkahu. “Saya tidak tau persis apa percakapan antar pimpinan kota dengan pihak PT Archi, sebab saya sendiri hanya mengatur acara soal yang lain itu diatur orang lain,” jelasnya seraya mengatakan jika dalam agenda pertemuan hanya dikatakan sebagai silahturahmi

“Intinya kedatangan Pak Rudy hanya kunjungan kerja dan silaturahmi saja dengan Pak Wali Kota. Soal apa yang mereka bicarakan, saya tidak tahu persis,” kata Albert.

Di informasi lain, Perwakilan perusahaan bersama pemerintah telah melakukan sejumlah kajian untuk memuluskan rencana merelokasi ratusan Kepala Keluarga (KK) warga Kelurahan Pinasungkulan.

Dan jika tidak ada halangan, dalam tahun ini rencana relokasi itu akan direalisasikan kendati harga ganti rugi lahan yang ditawarkan perusahaan masih mendapat penolakan dari warga.

“Memang sudah ada perintah untuk segera merelokasi warga Kelurahan Pinasungkulan, makanya segala persyaratan untuk kepentingan relokasi sementara dikebut,” kata salah satu sumber di internal PT MSM/TTN.

Bahkan kata dia, rencana relokasi itu sudah mendapat “lampu hijau” dari pemerintah pusat dengan tujuan kandungan emas yang ada di wilayah Kelurahan Pinasungkulan bisa segera diekplorasi.

“Tinggal menunggu waktu saja, karena semua sudah memberikan persetujuan demi kepentingan produksi,” katanya.

Terkait rencana relokasi Kelurahan  Pinasungkulan, tak ditampik Superintendent Public Relation External Relation PT MSM/TTN, Hery Inyo Rumondor.

Hery mengatakan, perusahaan tetap masih akan menunggu hasil study kajian meliputi berbagai aspek sosial, lingkungan, hukum, pemerintahan yang sedang berlangsung.

“PT MSM/TTN, senantiasa akan patuh terhadap aturan dan perundang-undangan yang berlaku, termasuk mendapatkan persetujuan dari pemerintah,” kata Hery.

Sebelum ada hasil kajian, kata dia, pihak perusahaan belum akan melakukan kegiatan apapun, termasuk rencana relokasi.

Sementara itu, dari data, Kelurahan Pinasungkulan sendiri dihuni 214 KK, 764 jiwa terdiri dari laki-laki 395 orang dan perempuan 369 orang dengan delapan RT.

Selain pemukiman, sejumlah fasilitas publik seperti TK Satap + SDN Pinasungkulan, SMP Satap, Pustu, Polindes, Rumah Dinas Guru, Resting Area, PAUD Sion Tinerungan dan Kantor Lurah bakal hilang.

Terpisah, sejumlah warga yang ditemui wartawan mengaku tak akan menjual lahannya jika harga yang dibeli dibawah keinginan masyarakat. “Jika memang harganya dibawah apa yang kami inginkan, maka tanah leluhur ini tak akan kami jual apalagi ini persoalan tanah leluhur yang disuruh jaga kepada kami,” jelas Harry Pontoh warga yang mempunyai tanah di Pinasungkulan ini.

Diapun mengatakan jika ada 150 Ha seluruh area perkampungan akan dibebaskan jika harga yang diminta masyarakat dipenuhi. “Harga yang kami minta dari 2,5 juta hingga 5 juta/meter untuk lahan pemukiman dan perkebunan  mungkin bisa sampai 1 juta/meter,” jelasnya seraya mengatakan jika lingkup kelurahan ini dimulai dari atas Kelurahan Duasudara di bagian Selatan, Timur Gunung Panjang Serawet, Barat Gunung Kasiam/Hutan Lindung Mawiuw dan Bagian utaranya adalah Kayu Batongka.(ep)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: