Terkait Limbah dan Relokasi Tinerungan Menteri ESDM ke MSM

BitungMB—Sejumlah Persoalan yang  melilit perusahaan tambang PT MSM diduga langsung di tindaklanjuti oleh pihak kementerian Energy dan Sumber Daya Mineral. Buktinya pada Jumat (26/11) Mentri ESDM Arifin Tasrif disela-sela acara PLN di Sulut menyempatkan diri untuk melihat persoalan di perusahaan Tambang itu.

Dari informasi yang didapat wartawan kedatangan menteri tersebut akan mengecek dari dekat persoalan relokasi Warga Tinerungan serta beberapa persoalan mengenai limbah. “Malahan kalau tidak salah menteri juga sempat membawa beberapa orang Inspektur tambang nasional guna menyelidiki persoalan Limbah Tailing  dan Limbah B3 di perusahaan itu,” kata sumber.

Diapun membeber beberapa data yang diduga menjadi fokus kedatangan Menteri ESDM.

“Ada sekitar 1 Juta Ton limbah Tailing yang tak dilaporkan ke kementerian,” jelasnya Sumber

Ketidaksesuaian jumlah (ton) limbah yang di timbun dengan akumulasi hingga 30 juni 2021 = 22.513.268 ton dan ada penambahan tanggal 1 juli 2021 sebanyak 11.676 ton. Sementara  di dalam Audit, laporan tertulis jumlah tailing pada per 30 Juni sebanyak 23.542.944 ton yang hanya tertulis 22.524.944 ton

Bukan hanya itu, ketidaksesuaian jumlah (ton) beberapa limbah B3 antara yang dilaporkan dengan data manifest misalnya oli  bekas, yang dilaporkan 61,488 ton tetapi di manifest 51,228 ton sehingga ada selisih 10,26 ton “Selisihnya kemana apakah dibuang di sungai, atau mal Administrasi, ini yang sementara ditelusuri pihak kementerian,” ungkapnya.

Malahan dari keterangan sumber, Menteri ESDM yang semula akan beracara ke Manado langsung mengadakan sidak ke PT MSM ditemani oleh Gubernur serta Walikota dan Bupati lingkar tambang.

Sementara Humas PT MSM/TTN Inyo Rumondor saat dikonfirmasi membenarkan kedatangan orang nomor satu di Kebijakan Pertambangan Indonesia itu. “Menteri datang ke Sulut untuk acara PLN, Lalu tiba-tiba pagi ini diagendakan ke MSM,” ungkap Rumondor.

Dia sendiri tak menjawab dengan rinci maksud kedatangan Menteri ESDM ke Perusahaan itu.

Namun untuk persoalan Limbah dirinya bingung dengan sumber yang menyodorkan data tersebut. “Tetapi laporan neraca limbah B3 kita Balance dengan yang diserahkan ke pihak pengelolah dan juga neraca limbah tailing balance antara yang dihasilkan dan ditempatkan di TSF,” Katanya.

Diapun mengatakan jika ada 2 jenis Limbah B3, satu limbah B3 Umum yaitu Oli bekas dan sebagainya yang diserahkan kepada pihak ke 3 yang berizin, untuk selanjutnya dikelolah dan satu lagi limbah tailing yang ditempatkan di TSF.

“Jika perusahaan menyalahi ini tentunya kita tidak akan mendapatkan Blue Proper dari KLHK,” ungkapnya lagi seraya mengatakan jika Blue Proper adalah perusahaan yang telah mematuhi dan menjalankan aturan terkait Lingkungan.(ep)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: