Boom Setiap Hari. Pinasungkulan Bagai “Afganistan” kecil di Indonesia.

BitungMB—Aktifitas bunyi alat berat mengali batu cadas dan angkutan material truck raksasa milik perusahaan Tambang PT MSM/TTN tepatnya di Lokasi pit Alaskhar kelurahan Pinasungkulan Kecamatan Ranowulu pada subuh hari pukul 03.00 Wita, membuat Olvi Kaunang terbangun dari tidurnya.

Saat Keluar kamar dirinya kaget melihat putrinya yang lagi hamil tua serta menantunya sementara duduk di ruang tamu yang beton sisi kirinya sudah ada tanda retak, tinggal menunggu roboh.

“Kenapa sudah bangun, kamu harus banyak istrirahat karena ada janin bayi diperutmu,” jelas Kaunang.

Sang putri dan menantunya kompak menjawab jika tak bisa tidur nyeyak karena ributnya aktifitas tambang di lokasi alaskhar. “Ribut sekali, ma,” kata sang putri diikuti suaminya ngedumel jika sebenarnya sejam jam 11 sudah tertidur namun terbangun karena subuh itu, aktiftas tambang sangat ribut.

Kaunang sendiri hanya bisa mengeluh. “Mau bagaimana lagi, semoga secepatnya kita bisa keluar dari sini,” pasrahnya saat menceritakan persoalan ini kepada wartawan akhir pekan lalu.

Tak hanya itu, seraya menarik panjang-panjang rokok kreteknya, Dia menceritakan ketidaknyamanan yang sering terjadi di kelurahannya. “Kami bagaikan hidup di medan perang, Siang bunyi Boom atau Blasting, malam ribut dengan alat berat mengaruk batu dan tanah dan dimuat ke truck pengangkut material,” katanya seraya menambahkan jika jarak antara pit Alaskhar dengan pemukiman tinggal 500 sampai dengan 700 meter saja.

Rumah Penduduk yang berbatasan langsung dengan Lokasi Tambang Pit Alaskhar

Diapun mengeluhkan jika dentuman Boom yang mengagetkan tersebut diikuti dengan bergetarnya tanah dan bangunan milik masyarakat Pinasungkulan. “Jika terdengar boom yang sangat kuat itu pasti diiringi dengan getaran dinding rumah serta kaca-kaca yang bergetar mengerikan. Sehingga kadang orang se isi rumah harus lari ke jalan takut rumah roboh,” Jelasnya.

Diapun menambahkan, Mungkin kehidupan warga Pinasungkulan sama halnya dengan warga yang berperang di Afganistan. “Bedanya masyarakat disini takut meninggal tertipa bangunan rumah di sana mungkin takut karena peluru,” ungkapnya seraya menyebutkan jika Pinasungkulan adalah Afganistan kecil di Indonesia.

Dirinya beserta warga Pinasungkulan lainnya meminta agar secepatnya kedamaian dan kenyamanan yang ditinggalkan leluhurnya itu kembali seperti dulu. “Jika memang belum mau dipindahkan hentikan dulu operasional tambang itu, agar kita masih nyaman tinggal disini. Dan jika mau dipindahkan secepatnya perusahaan membicarakan dengan kami, agar terhindar dari kekacauan layaknya di medan perang,” ungkap Olvi.

Pun curahan hati yang sama diungkapkan oleh tokoh pemuda Kelurahan Pinasungkulan, Wilsen Tumbel menyampaikan akan kondisi yang dialami oleh warga Pinasungkulan saat ini.

“Semoga rencana relokasi cepat direalisasi sehingga dampak yang dialami warga akan aktivitas pertambangan cepat terselesaikan” ujarnya.

Dia menambahkan jika masyarakat saat ini tinggal menunggu paparan dari pihak perusahaan dan Pemkot Bitung untuk direlokasi. “Asalkan ganti untung lahan dan harga serta lokasi sesuai dengan apa yang kami harapkan” tandasnya.

Sementara itu, Superintendent Public Relation External Relation PT MSM/TTN, Hery Inyo Rumondor menyatakan pihaknya sudah berupaya meminimalisir bunyi dan getaran akibat blasting.

“Sebelum peledakan, kita sudah informasikan ke masyarakat lewat papan pengumuman yang kita pasang di area strategis agar mudah dilihat masyarakat” singkatnya.(ep)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: