Kembali Heboh Pungli Di Bitung. Kini, Oknum KPLP Diduga Pelakunya

  • Konfrensi Pers di Kantor KPLP. Insert Pemilik kapal dan uang bukti pungli

BitungMB—Belum usai Viralnya Pungli di dinas Capilduk Kota Bitung akibat dugaan proses pembuatan KTP, kini kota Bitung dihebohkan dengan dugaan pungutan liar untuk melepaskan kapal ikan yang ditahan pihak Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP).

Hal ini terjadi pada Kamis 20 Januari 2022 pagi ketika kapal KM Cakrawala ditahan pihak KPLPkelas II Bitung.

Kejadian ini diungkapkan langsung oleh Muhammad Suwandi (52) alias Ko Aseng pemilik kapal KM Cakrawala yang dibuat geram oleh ulah oknum pegawai diinstansi yang berkantor di Kompleks Pelabuhan itu.

Menurut pria yang disapa Ko Aseng ini, kapalnya ditangkap di depan perairan pulau Lembeh usai pulang melaut, Kamis (22/1)

Dalam penuturannya penangkapan itu, terkait tiga pelanggaran. Pelanggaran yang dimaksud yakni, soal keberangkatan kapal yang tidak sesuai dengan tanggal, pelampung tak sesuai dengan standar, serta dua buku pelaut Anak Buah Kapal (ABK) belum diperpanjang.

“Mereka menangkap kapal saya seperti mencari-cari kesalahan,” katanya dengan nada tinggi saat ditemui sejumlah wartawan di Kelurahan Madidir Ure, Kecamatan Madidir, Sabtu (22/01).

Mirisnya lagi, ia membeberkan, usai kapal ditangkap, Oknum petugas KPLP yang berinisial F mamatok uang sebasar 40 juta dengan iming-iming kapal ikan tersebut bakal dilepas.

“Dengar kabar itu, saya langsung marah-marah. Bahkan, saya minta petugas untuk tahan saja kapalnya,” beber Ko Aseng.

Dia menjelaskan, karena pertimbangan di dalam kapal ada muatan ikan, negosiasi kembali dilakukan tapi hanya diberikan uang sebesar 10 juta.

Meski begitu, petugas saat itu masih ragu-ragu mengambil uang tersebut.

“Saat transaksi handphone saya di minta dinonaktifkan dan ditahan. Bahkan, uang itu hanya di letakkan di atas meja sambil saya digiring ke kapal sebelah,” ungkapnya seraya menambahkan saat dirinya kembali uang tersebut sudah tidak ada.

Sementara itu Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas II Bitung, Sabar Maima Hasugian membantah habis-habisan jika ada anak buahnya ada yang bermain kotor. “Saya sejak awal bulan bertugas di Jakarta. Baru tadi siang datang ke Bitung dan kaget dengan isu suap ini dan sudah saya tanya kepada semua anak buah saya tidak ada yang menerima uang sepeserpun dari orang yang katanya ko Aseng itu,” jelas Sabar.

Diapun mengatakan jika pria yang mengaku ko Aseng itu sudah sempat menelpon dirinya saat berada di Jakarta. “Dia meminta tolong agar kami bisa melepaskan kapalnya dan mengaku kalau dia punya banyak utang dan bahkan akan menjual kapal ini. Merasa kasihan, saya sudah berjanji kepadanya untuk melepaskan kapalnya, karena ada perintah dari atasan kami untuk tidak melakukan penahanan kapal-kapal lokal, namun diberikan pembinaan saja setelah 4 rangkap dokumen berita acara pelepasan kapal ditanda tangani pemilik,”  jelasnya.

Diapun mengatakan jika seharusnya kapal tersebut sudah di lepas pada malam hari Kamis penangkapan itu. “Kamis malam saat akan di proses surat surat pelepasan kapal, beliau tidak sabar dan pulang untuk makan dengan janji akan kembali, sampai jam 12 malam petugas penyidik menungunya dia tidak datang nanti datang pada Jumat jam 11.00 dan kapalnya sudah dilepas,” jelas Pria bertubuh besar ini.

Dirinya bahkan menilai jika pemilik kapal tersebut sudah kalap dan mencari-cari alasan. “Mungkin karena ketakutan sehingga dia menghebuskan isu pungli itu, padahal kami tidak meminta uang sepeserpun, karena dalam salah satu surat ditulis jika kami pihak KPLP telah menyerahkan surat-surat kapal tanpa dibebankan apapun. Dan surat itu sudah ditandatangani oleh Pemilik kapal sendiri,”jelas Hasugian seraya merasa aneh dengan apa yang dituduhkan pemilik Kapal Cakrawala ini.

Hasugian pun sudah mengkonfirmasi kepada semua yang ada di kantornya dan tak ada yang mengaku mengambil uang dari Ko Aseng itu. “Silahkan tanya sendiri kepada pimpinan Unit di kantor saya kalau ada dari mereka yang menerima uang dari pemilik kapal,” jelasnya menunjuk semua kepala unit yang ikut dihadirkan di konfrensi pers tersebut.

Sabar sendiri menjelaskan kronologi penangkapan tersebut  karena ada beberapa surat-surat yang tidak dikantongi pihak pemilik kapal.

“Surat Keberangkatan kapal sudah kadaluarsa, harusnya berangkat tanggal 13, nanti berangkat tanggal 15 Januari padahal ijin keberangkatannya hanya berlaku 1 hari, kemudian Life Jacket yang seharusnya berjumlah 25 buah hanya ada 17 buah dengan 6 buah yang layak dipakai, dan yang ketiga ada 2 orang anak buah kapal buku pelautnya sudah 1 tahun habis masa,”kata Hasibuan.(ep)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: