Pengerukan Sungai Girian, Kubur Poskesdes Girian Weru

BitungMB—Proyek Pengerukan Sungai Girian yang sementara dilakukan saat ini, rupanya mulai memakan korban material. Setelah Ketidakbecusan penempatan material pasir dan batu di bantaran sungai, kini salah satu aset pemerintah yaitu Poskesdes Girian Weru 1 dijadikan tempat pembuangan material pasir yang mengakibatkan bagian belakang dari bagunan tersebut setengahnya sudah terkubur.

Malahan sejumlah warga ditempat tersebut menurut Kepala kelurahan Girian Weru 1, Marlin Pratasis mengeluhkan pembuangan material di lokasi itu. “Ada beberapa warga yang mengeluhkan pembuangan material di lokasi tersebut, dan saya sudah mengecek langsung dilapangan ternyata benar,” ungkapnya.

Dia sendiri menjelaskan jika pengerukan ini tidak berkoordinasi dengan pihak Kelurahan sehingga dirinya baru mengetahui hal itu saat disampaikan kepala lingkungan dan RT. “Sampai saat ini belum ada yang melapor resmi atau menyurati kami soal pengerukan ini dan untuk sementara kami akan menunggu disini melihat perkembangan dan ingin ketemu dengan pelaksana,” katanya.

Kepala Puskesmas Girian Dr Lanny Mamahit sendiri saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui dan tidak pernah menyetujui jika pembuangan material dilakukan di Poskesdes ini. “Kami tidak mengetahui permintaan penimbunan ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Pihak Balai Wilayah Sungai melalui kepala satuan kerja Iskandar Kepada Wartawan, mengungkapkan jika proses pengerukan itu salah dan tidak pernah ada arahan untuk melakukan hal seperti itu. “Kami sudah melakukan kunjungan lapangan tadi dan tentunya ini salah, apalagi melakukan penimbunan seperti ini,” Jelasnya.

Iskandar yang didampinggi Pejabat Pembuat Komitment (PPK) Frans Manampiring, mengaku jika pihaknya akan memangil kontraktor pelaksana proyek tersebut untuk diberikan peringatan. “Kami sudah menghubungi pihak Kontraktor dan besok akan dilakukan rapat resmi untuk mengevaluasi pekerjaan sekaligus akan memberikan peringatan kepada kontraktor untuk segera mengangkat material yang salah tempat itu,” jelas Manampiring.

Dia juga mengatakan jika untuk pembuangan sedimen sungai menag tidak bisa dilakukan di bantaran sungai, namun harus dilakukan sejauh 1 kilometer dari titik pengambilan material.

“Namun memang ada permintaan material dari masyarakat dilokasi tersebut, tapi jika sudah mengunung seperti ini ini sudah salah, apalagi ada talud yang bocor sehingga jika air meluap maka sedimen ini akan kembali ke sungai, sehingga menurutnya  sedimen-sedimen yang dibuang di sungai itu harus diangkut dan dibuang ke tempat yang lain,” kata Manampiring.(ep)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: